Salam Perpisahan

Saya tahu kalau saya jauh dari kata sempurna. Dari fisik pastinya juga dari cara berpikir yang cukup rumit.

Akhirnya hari ini setelah empat tahun berguru dan mencintai seseorang yang banyak berjasa dalam hidup saya, saya ditinggalkan. Lebih karena dia sudah tidak nyaman berada di dekat saya.

Saya yang cenderung mempertanyakan hal-hal yang menurut dia sepele namun penting buay hati saya, menjadi emosi saat tidak menemukan jawabannya. Dari dia.

Maka akhirnya, saat saya yang kehabisan cara mendapatkan jawaban dimau dan enggan menghentikan pertanyaan-pertanyaan itu memilih untuk pasrah saat dia meninggalkan saya dan menerimanya.

Bukan dengan lapang hati dan tanpa air mata, tapi mempertahankan saat hanya kita yang mencoba itu sangat sulit.

Dan pada akhirnya, saya yang sudah pernah divonis terkena depresi dan harus mengonsumsi banyak obat untuk mengurangi panick attack dan gelisah memutuskan, ya saya harus melepas dia karena dia akan lebih bahagia tanpa saya.

Semoga nanti, cinta saya bis sedikit menyusut dan menguap jadi oksigen yang kamu hirup. Cinta.

 

Ps. Semoga kamu selalu bahagia.

Advertisements

Wibisono dan Pagar Bercat Coklat

Namanya Wibisono. Dulu aku selalu takut pada anak itu, bertubuh tinggi dan berpostur besar, namun berbeda dengan anak-anak di lingkunganku yang lainnya dia tidak berkawan dengan siapapun. Bahkan kenyataannya dia justru tidak memiliki teman, yang dilakukannya hanya duduk melihat kami dari balik pagar rumahnya yang bercat coklat berlarian ke sana ke mari dan setiap dia terlihat hendak bergabung kami semua selalu lari tunggang langgang. Ketakutan.

Ada yang berbeda dengannya, dengan tubuh dan postur yang dimilikinya dia terlihat lemah dan…entahlah bagaimana menjelaskannya tapi mungkin aku harus menjelaskan bagaimana keadaannya melalui panggilan kasar yang biasa aku dan kawan-kawanku lemparkan kepadanya, Si Oon. Baru beberapa tahun kemudian aku tahu kalau dia seorang anak terbelakang. Continue reading

Tak Tergapai

Cerpen ini juga dimuat di Kompasiana http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/03/17/tak-tergapai-639966.html

 

 

Membawa cinta ke liang kubur, mungkin terdengar sangat romantis di telingamu. Tapi apa yang terjadi jika cinta itu bukan untuk pasanganmu, bukan untuk seseorang yang menemanimu sampai tiba waktumu kembali pulang. Cinta itu justru untuk sosok terindah di masa lalu, cinta yang tak pernah bisa kau miliki.

Namun, kasih yang tak sampai itu justru terjadi pada Ibuku, Pratiwi yang mangkat sepekan lalu, dan sebelum pergi, Ibu menceritakan sejumput cinta masa lalunya, dan menitipkan sebuah surat untuk seseorang. Demi menghormati amanahnya dan membuatnya tenang di surga, aku harus melakukan perjalanan jauh ke sebuah seminari di Kabupaten Magelang. Continue reading

Pulang

Cerpen ini juga dimuat di Kompasiana http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/05/07/pulang-651683.html

 

Perempuan semampai itu tertegun menatapku yang kini tengah berdiri di depan pintu rumahnya dengan senyum canggung yang tersungging di wajahku yang kuyu, dan tanpa ragu dia langsung saja menubrukku, memelukku erat, membuat tubuhku doyong ke belakang. Pelukan yang menjadi utang kami, pelukan yang seolah tak akan lagi dia lepaskan.

Langsung saja masih dalam rengkuhan tangannya, kurasakan suaranya bergetar menanyakan kemana saja aku selama ini, bagaimana kabarku. Ahh..inilah rumah yang lama kutinggalkan.

Continue reading

Drupadi Kampung Buluh

Cerpen ini juga di muat di Kompasian http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/06/05/drupadi-kampung-buluh-656438.html

 

Hilang sudah ayu di wajah Nastri sejak suaminya pergi meninggalkannya begitu saja. Tidak lagi ada senyum kenes dan mata yang jahil di wajahnya, yang tersisa kini hanyalah tatapan nyalang penuh dendam dan seringah penuh amarah.

Lima tahun lalu kampung ini ramai, oleh bisik-bisik yang menyayangkan kenapa Nastri, si Kembang di kampung Buluh, begitu cepat dipinang orang, oleh kekecewaan para pemuda kampung yang diam-diam menyimpan rasa di hati mereka, untuk Nastri. Namun kini seolah Nastri sudah mati.

Continue reading

Menanti

Cerpen ini juga dimuat di Kompasiana http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/12/05/menanti-690514.html

 

Tangannya tak lagi mulus seperti dulu sudah banyak keriput yang menutupinya, rambutnya yang dulu hitam dan lebat pun sekarang putih bagaikan salju dan terlihat berwarna perak saat terkena sinar matahari. Banyak yang berubah dari perempuan itu, waktu menggerusnya dalam usia yang sudah bisa dibilang senja. 54 tahun.

Namun ada satu yang belum dan dijanjikannya tidak akan pernah berubah, kesetiaannya menantikan kekasihnya untuk kembali memberikan senyum terbaik dan pelukan terhangatnya, kesetiaan menantikan kesadaran kembali kekasihnya, walau dia tak tahu kapan itu akan terjadi. Continue reading

Ratri

Cerpen ini juga dimuat di kompasiana http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/08/23/lesbian-669987.html

 

Ini akan menjadi pertemuan kami yang terakhir, pertemuan yang mungkin akan menentukan masa depan hubungan kami, hubungan terlarang kami. Tegang, takut, dan sedikit bersemangat kini menunggangi hatiku membuatnya berdebar puluhan kali lebih cepat dari biasanya, seharusnya aku bersyukur karena berarti aku masih hidup, taou aku juga takut jantungku tidak akan kuat menahan debaran ini.

Continue reading

Kenangan

Cerpen ini juga dimuat di kompasiana http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/09/15/kenangan-674523.html

 

Tidak ada satu manusia pun yang tahu ke mana nasib akan membawanya, sesaat kita tertinggal di hamparan masa lalu, terus seolah terpental kembali ke masa kini, ajaibnya dalam hitungan detik.

Sesaat aku terperangkap di medan magnet angan-angan, lalu kini terjerembab pada kenyataan yang sama sekali berbeda, membuatku trauma dan sekali lagi enggan meninggalkan kenangan merajut mimpi tanpa benang, karena sesungguhnya aku tahu impian itu tak akan pernah mencapai titik pemenuhan. Continue reading

Ning

Cerpen ini juga dimuat di kompasiana http://fiksi.kompasiana.com/cerpen/2014/07/23/pelacur-665525.html
1

Ning terbangun di atas dipan beralas tikar pandan, tubuhnya berpeluh dan telanjang bulat, laki-laki di sampingnya pun tertidur dengan posisi yang sangat tidak enak dipandang mata. Segera saja Ning bangkit, dan saat dirinya bangkit, tubuh dempal laki-laki berperawakan tambun itu menggeliat, liur yang menggantung di sudut bibirnya mengalir menuju telinganya.

Buru-buru Ning mengumpulkan pakaiannya yang tercecer di segala penjuru ruangan berukuran 3×4 meter tanpa perabot tersebut. Begitu selesai mengumpulkan pakaiannya yang tercerai-berai, Ning segera menuju kamar mandi kecil di dalam ruangan tersebut untuk sekadar membasuh sisa-sisa mani yang melumuri tubuh sintalnya.

Continue reading